LAPORAN PRAKTIKUMMIKROBIOLOGI
UJI
POTENSI SENYAWA ANTIMIKROBA PSEUDOMONAS AERUGINOSA secara DIFUSI SUMURAN dan
DIFUSI PAPERDISK
Disusunoleh:
KELOMPOK 3
Muhammad Sodik 1351810262
Yuni Nawwar Rizky wulandari 1351810278
Zahro Suryana Arief 1351810279
Arlingga Rahmania Lanuari 1351810280
Shintya Bella Aprilia 1351810281
Anis Thohiroh 1351810291
Dyah Ayu Wardani 1351810292
Mirza Elfaryani 1351810293
LABORATORIUM
MIKROBIOLGI
AKADEMI FARMASI
SURABAYA
2019
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
B. RUMUSAN
MASALAH
Apakah
terdapat pengaruh aktifitas antibakteri dari ekstrak daun pepaya terhadap bakteri
Pseudomonas aeruginosa ?
C. TUJUAN
Untuk
mengetahui ada tidaknya potensi anti bakteri dari suatu senyawa antimikroba pseudomonas aeruginosasecara difusi
sumuran dan difusi paper disk
Agar
mahasiswa dapat mengetahui metode difusi sumuran dan difusi paper disk dalam
uji potensi senyawa anti mikroba pseudomonas aeruginosa
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Daun pepaya (Carica papaya Linn)
Tanaman pepaya
merupakan salah satu tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia. Tanaman ini
banyak digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional. Daun pepaya mengandung
alkaloid, karpain, enzim papapin, vitamin C dan vitamin E (Anindhita dan
Okatviani, 2016). Daun pepaya juga mengandung senywa lain seperti saponin,
flavonoid dan tanin (Krishna dkk. 2008). Senyawa tersebut merupakan hasil
metabolit sekunder yang banyak dihasilkan oleh tanaman.
Senyawa
flavonoid berperan sebagai antibiotik dengan mengganggu mikroorganisme seperti
fungi. Senyawa alkaloid berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri gram positif
dan gram negatif. Saponin berperan dalam proses pencernaan dengan cara
meningkatkan permeabilitas dinding sel pada usus dan meningkatkan penyerapan zat
makanan (Hasiib dkk, 2015). Papain adalah suatu senyawa yang membantu proses
pencernaan alami yang efektif memecah protein dan membersihkan saluran
pencernaan (santoso dan fenita, 2015). Saponin dan tanin merupakan agen
defaunasi yang banyak digunakan dalam beberapa penelitian untuk menekan jumlah
protozoa. Tanin selain berfungsi sebagai agen defaunasi juga berfungsi
memproteksi protein pakan (Wahyuni dkk, 2014). Kandungan kimia yang terdapat
dalam ekstrak daun pepaya memiliki aktivitas sebagai antelmintika, antibakteri
dan antiinflamasi (Ayola dan Adeyeye, 2010)
2.2
Pseudomonas aeruginosa
Pseudomonas
aeruginosa dapat menimbulkan infeksi pada saluran pernapasan, kantung kencing,
telinga, kulit dan pada luka-luka. Bakteri dapat ditemukan dalam sputum, urine,
darah, feses, secret telinga, air juga dalam makanan dan minuman (Jawetz,
1986).
Bakteri
P. aeruginosa berbentuk batang, motil dan berukuran sekitar 0,6 x 2 mm. Bakteri
gram negatif dan dapat muncul dalam bentuk tunggal, berpasangan atau
kadang-kadang dalam bentuk rantai pendek. Tumbuh baik pada suhu 37-42˚C. P. aeruginosa
menjadi patogenik ketika berada pada tempat dengan daya tahan tidak normal atau
imunitas tubuh rendah (Arini, 1995).
P.
aeruginosa bersifat aerob obligat yang tumbuh dengan cepat pada berbagai tipe
media dan tidak meragikan laktosa, kadang memproduksi bau manis seperti anggur
atau seperti jagung. P. aeruginosa membentuk koloni bulat, halus dengan warna
fluoresen kehijauan juga sering memproduksi pigmen kebiruan dan tidak
fluorescent yang disebut piosianin. Tumbuh baik 35˚C-42˚C, petumbuhan
pada 42˚C
membantu membedakannya dari spesies pseudomonas pada kelompok fluorescent,
bersifat oksidase positif. Tidak meragikan kerbohidrat, tetapi berbagai srtain
mengoksidasi (Jawetz at al, 2001).
2.3 Nutrient Agar (NA)
Nutrient
Agar (NA) merupakan suatu media yang berbentuk padat, yang merupakan perpaduan
antara bahan alamiah dan senyawa-senyawa kimia. Nutrient Agar (NA) merupakan
suatu media yang mengandung sumber nitrogen dalam jumlah cukup yang dapat
digunakan untuk budidaya bakteri dan untuk perhitungan mikroorganisme dalam
air, limbah, kotoran dan bahan lainya. Komposisi Nutrient Agar(NA) terdiri dari
ekstrak sapi 3 gram, peptone 5 gram dan agar 15 gram. Formula ini tergolong
relatif simpel untuk menyediakan nutrisi-nitrisi yang dibutuhkan oleh sejumlah
besar mikroorganisme.
Pada
Nutrient Agar (NA), ekstrak daging sapi dan peptone digunakan sebagai bahan
dasar kerna merupakan sumber protein, nitrogen, vitamin, serta karbohidrat yang
sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang. Ekstrak
daging sapi mengandung senyawa-senyawa yang larut didalam air termasuk
karbohidrat, vitamin, nitrogen organik dan juga garam. Peptone merupakan sumber
utama dari nitrogen organik, yang sebagian merupakan asam amino dan peptida
rantai panjang. Dalam hal ini agar digunakan sebagai bahan pemadat, karna
sifatnya yang mudah membeku dan mengandung karbohidrat sehingga tidak mudah
diuraikan oleh mikroorganisme. Media Nutrient Agar (NA) merupakan suatu media
berwarna coklat muda yang memiliki konsistensi yang padat dimana media ini
berasal dari sintetik dan memiliki kegunaan sebagai media untuk menumbuhkan
bakteri. Di Indonesia sendiri, Nutrient Agar (NA) sudah banyak dipakai oleh
industri khususnya industri produk susu dan juga dipengolahan air dan limbah
pabrik.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Alat
1. Cawan petri 9. Autoclave
2. Sendok Stainless 10. Filler
3. Erlenmeyer 11.
Pipet Ukur
4. Gelas Ukur 12.
Jangka sorong
5. Beakerglass 13.
Micropipet
6. Blader 14.
Yellow tip
7. Batang Pengaduk 15.
Spreader
8. Kompor Listrik 16.
Cakram
3.2
Bahan
1. Nutrient agar
2. Biakan bakteri Pseudomonas Aeruginosa
3. Ekstrak daun pepaya
3.3
Metode
1. Pembuatan Media NA
Ditimbang nutrient
agar kemudian dilarutkan dan dipanaskan sambil diaduk sampai berubah warna
menjadi jernih. Setelah itu disterilisasi pada autoclave dengan suhu 1210
C selama 20 menit. Kemudian dituang ke cawan petri sebanyak 15 ml dan
diinkubasi selama 24 jam. (dilakukan secara aseptis).
2. Preparasi mikroba uji
Disiapkan biakan bakteri pseudomonas aeruginosa dan media NA steril
yang telah diinkubasi 24 jam. Dipipet biakan bakteri sebanyak 0,1 ml kemudian
di spread diatas media NA dan diinkubasi selama 24 jam. (dilakukan secara
aseptis).
3. pengujian potensial dengan metode cakram
Buka kertas cakram kemudian ambil cakram menggunakan pinset
kemudian tetesi cakram dengan ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 2%, 4%,
6%, 8% dan 10 % sebanyak 30 μl lalu diletakan di media NA bagian samping yang
telah di spread bakteri pseudomonas aeruginosa. kemudian ambil cakram lagi dan
tetesi dengan aquades steril lalu letakan di media NA bagian tengah sebagai
kontrol negatif. Kemudian inkubasi minimal 24 jam. Setelah diinkubasi lakukan
pengamatan zona hambat nya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pada Praktikum ini dilakukan dengan menggunakan media
NA (Nutrient Agar)
karena medium ini dispesifikasikan untuk pembiakan bakteri.
Berdasarkan uji daya hambat yang telah dilakukan dengan menggunakan metode
cakram,. Uji daya hambat dilakukan dengan ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya)
konsentrasi 2%,4%,6%,8%,10% dan kontrol negatif menggunakan aquadest steril
terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa.
![]() |
Gambar 1 Uji Daya Hambat Ektstrak Daun Pepaya
terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa
Zona Hambat merupakan tempat dimana bakteri terhambat pertumbuhannya akibat antibakteri atau antimikroba. Zona hambat adalah
daerah untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme
pada media agar.Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun pepaya (Carica papaya) bertujuan untuk
mengetahui apakah aktivitas antibakteri mampu menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa.. Hasil positif
uji aktivitas antimikroba ditandai dengan terbentuknya zona bening di sekitar
paper disk yang mengandung ekstrak
Pada
praktikum ini yang telah dilakukan hasil uji daya hambat terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa tidak menunjukan
adanya aktivitas antibakteri atau zona bening disekitar paper disk (zona bening
= 0mm). Hal ini diduga pada ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%,
8%, dan 10% tidak cukup untuk merusak membran sel bakteri sehingga bakteri
masih bisa memperbanyak selnya.
BAB V
KESIMPULAN
Pada
praktikum yang
telah dilakukan hasil uji daya hambat terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa tidak menunjukan adanya aktivitas
antibakteri atau zona bening disekitar paper disk (zona bening = 0mm). Hal ini
diduga pada ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%
tidak cukup untuk merusak membran sel bakteri sehingga bakteri masih bisa
memperbanyak selnya.
EVALUASI
1. Apa perbedaan metode difusi sumuran dan difusi paper disk yang
anda kerjakan tersebut ?
Ø Metode difusi sumuran dilakukan dengan membuat sumuran dengan
diameter tertentu pada media agar yang telah ditanami mikroba uji. Sedangkan
pada metode difusi paperdisk dilakukan dengan cara kertas disk yang mengandung
senyawa anntimikroba diletakkan diatas permukaan media agaryang telah ditanam
ole mikroba uji.
2. Mengapa pada preparasi mikroba uji diperlukan larutan standar ?
Ø Untuk menggantikan perhitungan bakteri satu per satu dan untuk
memperkirakan kepadatan sel yang akan digunakan pada prosedur pengujian
antimikroba
3. Bagaimana cara pembuatan larutan standar mac farland ?
Ø Dibuat larutan 1.1755% (b/v) Barium Klorida
Ø buat larutan 1% (b/v) Asam sulfat
Ø Campurkan kedua larutan berdasarkan rasio tersebut, dengan
[pemberian H2SO4 terlebih dahulu

Ø Tutup tabung dengan rapat dan simpann pada suhu ruang ditempat
gelap.
4. Apa fungsi dari konntrol kontaminasi media, kontrol pertumbuhhan
mikroba uji dan kontrol negatif/pelarut ?
Ø Kontrol kontaminasi media : untuk mengetahui bahwa media terbebas
dari faktor kontaminasi bakteri dari luar.
Ø Kontrol pertumbuhan mikroba uji : untuk membuktikan bahwa bakteri
uji dapat tetap hidup.
Ø Kontrol negatif/pelarut : untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh
pelarut terhadap pertumbuhan bakteri sehingga dapat doketahui bahwa yang
mempunyai aktivitas antibakteri adalah zat uji bukan pelarut.
5. Mungkinkah digunakan pelarut senyawa uji yang memiliki potensi
antimikroba ? jelaskan !
Ø Digunakannya pelarut senyawa uji potensi mikroba untuk mengetahui
bagaimana cara menanngani penyakit yang ditimbulkan oleh mikroba maka
dilakukanlah uji aktivitas mikroba dengan mengukur efek senyawa tersebut pada
pertumbuhan suatu mikroba.

