Minggu, 15 Desember 2019

UJI POTENSI SENYAWA ANTIMIKROBA PSEUDOMONAS AERUGINOSA secara DIFUSI SUMURAN dan DIFUSI PAPERDISK


LAPORAN PRAKTIKUMMIKROBIOLOGI






UJI POTENSI SENYAWA ANTIMIKROBA PSEUDOMONAS AERUGINOSA secara DIFUSI SUMURAN dan DIFUSI PAPERDISK


Disusunoleh:
KELOMPOK 3
Muhammad Sodik 1351810262
Yuni Nawwar Rizky wulandari 1351810278
Zahro Suryana Arief 1351810279
Arlingga Rahmania Lanuari 1351810280
Shintya Bella Aprilia 1351810281
Anis Thohiroh 1351810291
Dyah Ayu Wardani 1351810292
Mirza Elfaryani 1351810293

LABORATORIUM MIKROBIOLGI
AKADEMI FARMASI SURABAYA
2019









BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

B.     RUMUSAN MASALAH
Apakah terdapat pengaruh aktifitas antibakteri dari ekstrak daun pepaya terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa ?

C.     TUJUAN
Untuk mengetahui ada tidaknya potensi anti bakteri dari suatu senyawa antimikroba pseudomonas aeruginosasecara difusi sumuran dan difusi paper disk

D.    MANFAAT
Agar mahasiswa dapat mengetahui metode difusi sumuran dan difusi paper disk dalam uji potensi senyawa anti mikroba pseudomonas aeruginosa


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Daun pepaya (Carica papaya Linn)
Tanaman pepaya merupakan salah satu tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia. Tanaman ini banyak digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional. Daun pepaya mengandung alkaloid, karpain, enzim papapin, vitamin C dan vitamin E (Anindhita dan Okatviani, 2016). Daun pepaya juga mengandung senywa lain seperti saponin, flavonoid dan tanin (Krishna dkk. 2008). Senyawa tersebut merupakan hasil metabolit sekunder yang banyak dihasilkan oleh tanaman.
Senyawa flavonoid berperan sebagai antibiotik dengan mengganggu mikroorganisme seperti fungi. Senyawa alkaloid berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan gram negatif. Saponin berperan dalam proses pencernaan dengan cara meningkatkan permeabilitas dinding sel pada usus dan meningkatkan penyerapan zat makanan (Hasiib dkk, 2015). Papain adalah suatu senyawa yang membantu proses pencernaan alami yang efektif memecah protein dan membersihkan saluran pencernaan (santoso dan fenita, 2015). Saponin dan tanin merupakan agen defaunasi yang banyak digunakan dalam beberapa penelitian untuk menekan jumlah protozoa. Tanin selain berfungsi sebagai agen defaunasi juga berfungsi memproteksi protein pakan (Wahyuni dkk, 2014). Kandungan kimia yang terdapat dalam ekstrak daun pepaya memiliki aktivitas sebagai antelmintika, antibakteri dan antiinflamasi (Ayola dan Adeyeye, 2010)
2.2  Pseudomonas aeruginosa
            Pseudomonas aeruginosa dapat menimbulkan infeksi pada saluran pernapasan, kantung kencing, telinga, kulit dan pada luka-luka. Bakteri dapat ditemukan dalam sputum, urine, darah, feses, secret telinga, air juga dalam makanan dan minuman (Jawetz, 1986).
            Bakteri P. aeruginosa berbentuk batang, motil dan berukuran sekitar 0,6 x 2 mm. Bakteri gram negatif dan dapat muncul dalam bentuk tunggal, berpasangan atau kadang-kadang dalam bentuk rantai pendek. Tumbuh baik pada suhu 37-42˚C. P. aeruginosa menjadi patogenik ketika berada pada tempat dengan daya tahan tidak normal atau imunitas tubuh rendah (Arini, 1995).
            P. aeruginosa bersifat aerob obligat yang tumbuh dengan cepat pada berbagai tipe media dan tidak meragikan laktosa, kadang memproduksi bau manis seperti anggur atau seperti jagung. P. aeruginosa membentuk koloni bulat, halus dengan warna fluoresen kehijauan juga sering memproduksi pigmen kebiruan dan tidak fluorescent yang disebut piosianin. Tumbuh baik 35˚C-42˚C, petumbuhan pada 42˚C membantu membedakannya dari spesies pseudomonas pada kelompok fluorescent, bersifat oksidase positif. Tidak meragikan kerbohidrat, tetapi berbagai srtain mengoksidasi (Jawetz at al, 2001).
2.3 Nutrient Agar (NA)
            Nutrient Agar (NA) merupakan suatu media yang berbentuk padat, yang merupakan perpaduan antara bahan alamiah dan senyawa-senyawa kimia. Nutrient Agar (NA) merupakan suatu media yang mengandung sumber nitrogen dalam jumlah cukup yang dapat digunakan untuk budidaya bakteri dan untuk perhitungan mikroorganisme dalam air, limbah, kotoran dan bahan lainya. Komposisi Nutrient Agar(NA) terdiri dari ekstrak sapi 3 gram, peptone 5 gram dan agar 15 gram. Formula ini tergolong relatif simpel untuk menyediakan nutrisi-nitrisi yang dibutuhkan oleh sejumlah besar mikroorganisme.
            Pada Nutrient Agar (NA), ekstrak daging sapi dan peptone digunakan sebagai bahan dasar kerna merupakan sumber protein, nitrogen, vitamin, serta karbohidrat yang sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang. Ekstrak daging sapi mengandung senyawa-senyawa yang larut didalam air termasuk karbohidrat, vitamin, nitrogen organik dan juga garam. Peptone merupakan sumber utama dari nitrogen organik, yang sebagian merupakan asam amino dan peptida rantai panjang. Dalam hal ini agar digunakan sebagai bahan pemadat, karna sifatnya yang mudah membeku dan mengandung karbohidrat sehingga tidak mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Media Nutrient Agar (NA) merupakan suatu media berwarna coklat muda yang memiliki konsistensi yang padat dimana media ini berasal dari sintetik dan memiliki kegunaan sebagai media untuk menumbuhkan bakteri. Di Indonesia sendiri, Nutrient Agar (NA) sudah banyak dipakai oleh industri khususnya industri produk susu dan juga dipengolahan air dan limbah pabrik.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat
1. Cawan petri                                     9.  Autoclave                          
2.  Sendok Stainless                            10. Filler
3. Erlenmeyer                                      11. Pipet Ukur
4. Gelas Ukur                                      12. Jangka sorong
5. Beakerglass                                     13. Micropipet
6. Blader                                             14. Yellow tip
7. Batang Pengaduk                            15. Spreader
8. Kompor Listrik                               16. Cakram
3.2 Bahan
            1. Nutrient agar
2. Biakan bakteri Pseudomonas Aeruginosa
3. Ekstrak daun pepaya
3.3 Metode
            1. Pembuatan Media NA
            Ditimbang nutrient agar kemudian dilarutkan dan dipanaskan sambil diaduk sampai berubah warna menjadi jernih. Setelah itu disterilisasi pada autoclave dengan suhu 1210 C selama 20 menit. Kemudian dituang ke cawan petri sebanyak 15 ml dan diinkubasi selama 24 jam. (dilakukan secara aseptis).
2. Preparasi mikroba uji
Disiapkan biakan bakteri pseudomonas aeruginosa dan media NA steril yang telah diinkubasi 24 jam. Dipipet biakan bakteri sebanyak 0,1 ml kemudian di spread diatas media NA dan diinkubasi selama 24 jam. (dilakukan secara aseptis).
3. pengujian potensial dengan metode cakram
Buka kertas cakram kemudian ambil cakram menggunakan pinset kemudian tetesi cakram dengan ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8% dan 10 % sebanyak 30 μl lalu diletakan di media NA bagian samping yang telah di spread bakteri pseudomonas aeruginosa. kemudian ambil cakram lagi dan tetesi dengan aquades steril lalu letakan di media NA bagian tengah sebagai kontrol negatif. Kemudian inkubasi minimal 24 jam. Setelah diinkubasi lakukan pengamatan zona hambat nya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
            Pada Praktikum ini dilakukan dengan menggunakan media NA (Nutrient Agar) karena medium ini dispesifikasikan untuk  pembiakan bakteri. Berdasarkan uji daya hambat yang telah dilakukan dengan menggunakan metode cakram,. Uji daya hambat dilakukan dengan ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) konsentrasi 2%,4%,6%,8%,10% dan kontrol negatif menggunakan aquadest steril terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa.


 




                               




 Gambar 1 Uji Daya Hambat Ektstrak Daun Pepaya terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa
Zona Hambat merupakan tempat dimana bakteri terhambat pertumbuhannya akibat    antibakteri atau antimikroba. Zona hambat adalah daerah untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar.Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun pepaya (Carica papaya) bertujuan untuk mengetahui apakah aktivitas antibakteri mampu menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa.. Hasil positif uji aktivitas antimikroba ditandai dengan terbentuknya zona bening di sekitar paper disk yang mengandung ekstrak 
Pada praktikum ini yang telah dilakukan hasil uji daya hambat terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa tidak menunjukan adanya aktivitas antibakteri atau zona bening disekitar paper disk (zona bening = 0mm). Hal ini diduga pada ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10% tidak cukup untuk merusak membran sel bakteri sehingga bakteri masih bisa memperbanyak selnya.
         

BAB V
KESIMPULAN

Pada praktikum yang telah dilakukan hasil uji daya hambat terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa tidak menunjukan adanya aktivitas antibakteri atau zona bening disekitar paper disk (zona bening = 0mm). Hal ini diduga pada ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10% tidak cukup untuk merusak membran sel bakteri sehingga bakteri masih bisa memperbanyak selnya.


EVALUASI
1.      Apa perbedaan metode difusi sumuran dan difusi paper disk yang anda kerjakan tersebut ?
Ø  Metode difusi sumuran dilakukan dengan membuat sumuran dengan diameter tertentu pada media agar yang telah ditanami mikroba uji. Sedangkan pada metode difusi paperdisk dilakukan dengan cara kertas disk yang mengandung senyawa anntimikroba diletakkan diatas permukaan media agaryang telah ditanam ole mikroba uji.
2.      Mengapa pada preparasi mikroba uji diperlukan larutan standar ?
Ø  Untuk menggantikan perhitungan bakteri satu per satu dan untuk memperkirakan kepadatan sel yang akan digunakan pada prosedur pengujian antimikroba
3.      Bagaimana cara pembuatan larutan standar mac farland ?
Ø  Dibuat larutan 1.1755% (b/v) Barium Klorida
Ø  buat larutan 1% (b/v) Asam sulfat
Ø  Campurkan kedua larutan berdasarkan rasio tersebut, dengan [pemberian H2SO4 terlebih dahulu
Ø  Tutup tabung dengan rapat dan simpann pada suhu ruang ditempat gelap.
4.      Apa fungsi dari konntrol kontaminasi media, kontrol pertumbuhhan mikroba uji dan kontrol negatif/pelarut ?
Ø  Kontrol kontaminasi media : untuk mengetahui bahwa media terbebas dari faktor kontaminasi bakteri dari luar.
Ø  Kontrol pertumbuhan mikroba uji : untuk membuktikan bahwa bakteri uji dapat tetap hidup.
Ø  Kontrol negatif/pelarut : untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pelarut terhadap pertumbuhan bakteri sehingga dapat doketahui bahwa yang mempunyai aktivitas antibakteri adalah zat uji bukan pelarut.
5.      Mungkinkah digunakan pelarut senyawa uji yang memiliki potensi antimikroba ? jelaskan !
Ø  Digunakannya pelarut senyawa uji potensi mikroba untuk mengetahui bagaimana cara menanngani penyakit yang ditimbulkan oleh mikroba maka dilakukanlah uji aktivitas mikroba dengan mengukur efek senyawa tersebut pada pertumbuhan suatu mikroba.